UNTUK KAWASAN WISATA KAWAH DARAJAT GARUT, KAMI TIDAK BEKERJA SAMA DENGAN PENGINAPAN DAN WATERBOOM PUNCAK DARAJAT GARUT. (REKANAN KAMI HANYA DARAJAT PASS GARUT DAN AWIT SINAR ALAM DARAJAT GARUT)!

Karena Banyaknya Permintaan Penawaran Harga Paket Wisata terutama menjelang liburan anak sekolah 2014 serta yang berniat Tour di Bulan Mei / Juni agar data permintaan penawaran Paket Wisata ke Garut masuk ke antrian, kami sarankan para calon pengunjung Wisata di Garut untuk mengisi FORMULIR RESERVASI

Cara Reservasi Hotel di Garut

DEMI KEPUASAN CALON WISATAWAN KAMI TIDAK MENERIMA BOOKING DAN RESERVASI DADAKAN PADA H-1 & HARI H ! TELEPON JAM 08.00 s/d 17.00 WIB dari SENIN s/d SABTU

AGAR PARA TAMU BISA MENENTUKAN PILIHAN MENGINAP SETELAH MENDAPAT INFORMASI LENGKAP DAN DETAIL.




Saturday, 6 April 2013

Kawah Gunung Papandayan

Kabupaten Garut yang kaya dengan panorama alam yang indah dan sejuk, menjadi daya tarik tersendiri bagi kota garut, wisatawan lokal maupun dari luar garut itu sendiri pada berdatangan ke wilayah garut untuk menikmati panorama alam yang masih terawat dan masih asli.

















Selain pantai yang ada di kabupaten garut, budaya yang masih terjaga, pemandian air panas yang bersumber dari gunung guntur, serta kawah darajat, itu sebagian tempat yang menawarkan beberapa keanekaragaman tentang keindahan dan kehidupan yang ada di kabupaten Garut. Nah garut dengan julukan Swiss Van Java, karena menurut sebagian orang, garut di sebut swiss van java karena dikelilingi gunung-gunung besar layaknya seperti di Swiss.

Salah satu gunung teraktif di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Garut, yaitu Gunung Papandayan, Gunung papandayan ini sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat luas. Karena Gunung tersebut sampai saat ini masih dinyatakan berbahaya. Letusan terakhir Gunung ini yang cukup Dahsyat pada Tahun 2002.

Gunung Papandayan adalah gunung yang memanjang di selatan kota Bandung, Gunung ini terletak di kabupaten Garut yang sangat populer di kalangan warga Jawa Barat, Karena banyaknya wisatawan dan para pendaki yang mengunjungi Gunung Papandayan ini.

Untuk mendaki Gunung Papandayan bisa melalui cisurupan garut, melalui jalur pangalengan bandung. Mendaki melalui cisurupan adalah jalur yang paling menyenangkan, menyenangkan dalam arti tidak perlu jalan banyak, tapi sudah sampai di objek wisata karena kecamatan Cisurupan ini tepat di kaki gunung tersebut. Sehingga kita hanya perlu hiking 1 jam saja untuk melihat kawah papandayan. Untuk mengapai puncaknya pun tidaklah sulit, kita hanya perlu berjalan kaki 2 jam. Track pun lumayan landai.

Obyek wisata disini yang sangat special adalah kawah papandayan yang masi mengepulkan asap belerang, selebihnya hanyalah pemandangan alam, dan hamparan luas hutan. Lumayan menyenangkan. Jika anda menyukai alam.

Jika anda ingin camping anda dapat camping di puncak gunung, atau di pondok selada, Namun pondok selada masi tertutup untuk camping dikarenakan rawan longsor.

Menurut kami jalur yang paling menyenangkan adalah pergi lewat cisurupan dan kembali lewat cisurupan lagi. Karena melalui cisurupan, fasilitas transportasi cukup tersedia. Sehingga anda tidak akan menemukan kesulitan apabila ingin pulang. Cukup melelahkan juga jika anda harus berjalan kaki turun gunung.

Kami sangat-sangat tidak menyarankan anda mencoba untuk turun lewat jalur cileleuy, Karena anda akan mencapai kebun teh, yang luasnya berhektar2, dan jalan nya pun berkelok-kelok, yang parah nya anda akan sampai di desa terpencil, dimana tidak ada angkot, jalan raya pun sangat jauh dari desa tersebut. Serasa terdampar di tempat terpencil. Tidak ada truk sayur kosong disini, karena mengangkut hasil bumi dari lading para petani. Tidak ada angkot ataupun ojek. Karena didesa ini hanya ada motor trail, dan mobil-mobilan (mobil tua).

Nama Papandayan, berasal dari bahasa sunda “Panday” yang berarti pandai besi. Dahulu, ketika masyarakat melintasi gunung ini, sering terdengar suara-suara yang mirip keadaan ditempat kerja pandai besi, suara itu berasal dari kawah yang sangat aktif. Demikianlah gunung ini kemudian dinamakan Papandayan oleh masyarakat disekitar gunung ini.

Gunung Papandayan terletak di sekitar 25 Km sebelah barat daya Kabupaten Garut, dengan posisi geografis 70 19' Lintang Selatan dan 1070 44' Bujur Timur dengan ketinggian 2665 Mdpl atau sekitar 1950 M diatas dataran Garut. Disebelah selatan gunung ini terdapat G. Guntur dan disebelah timurnya terdapat G. Cikuray.

G. Papandayan merupakan kerucut paling selatan dari deretan gunung api di priangan selatan yang telah diklasifikasikan (sejak zaman penjajahan Belanda) sebagai gunung aktif yang cukup berbahaya di Jawa Barat. Letusan-letusan yang terjadi sejak dahulu kala membuat wujud gunung ini seperti potongan tapal kuda. Kawah tertuanya terletak di Tegal Alun-alun yang telah lama mati dan berubah menjadi padang terbuka. Dinding kawah tua ini membentuk kompleks pegunungan dengan puncak-puncaknya yaitu G. Malang (2675 Mdpl), G. Masigit (2619 Mdpl), G. Saroni (2611 Mdpl) dan G. Papandayan (2665 Mdpl) yang mengelilingi Tegal Alun-alun. Di padang inilah muncul mata air yang menjelma menjadi Sungai Ciparugpug.

Disekitar areal tapal kuda ini, kita juga dapat melihat gunung-gunung kecil yang mengelilingi G. Papandayan, antara lain G. Puntang (2555 Mdpl), G. Walirang (2238 Mdpl), G. Tegal Paku (2225 Mdpl) dan G. Jaya (2422 Mdpl). Sementara dilembah diantara G. Puntang dan G. Walirang terdapat sungai Cibeureum Gede yang mengalir ke Sungai Cimanuk.

Dalam catatan sejarah, letusan besar pernah terjadi di G. Papandayan pada 11 – 12 Agustus 1772. Inilah letusan terdahsyat G. Papandayan yang tercatat dalam sejarah. Selain menghancurkan sebagian tubuhnya, letusan ini juga menghancurkan 40 perkampungan didataran tinggi garut, memakan korban jiwa kurang lebih 2957 orang dan membunuh lebih dari 1500 ekor sapi, kerbau, kambing, dan binatang-binatang peliharaan lainnya.

Pada tahun 1819, pendiri kebun raya Bogor, C.G.C Reindwardt yang berkebangsaan Jerman menjadi orang-orang asing pertama yang mendaki gunung ini. Pada masa-masa inilah, G. Papandayan menjadi surga bagi para ahli gunung berapi dan tumbuh-tumbuhan hingga sekarang.

Setelah itu, gunung ini mengalami masa tenang kembali sampai 11 Maret 1923 saat kawah Papandayan (kawah Mas) mulai bergejolak kembali hingga 9 Maret 1925. Selama 2 tahun, letusan kecil tidak membahayakan sering terjadi di gunung ini. Letusan yang terjadi pada 11 Maret 1923 ini tercatat berasal dari kawah yang terdapat di Tegal Alun-alun, yakni berupa letusan lumpur dan batu-batuan sebesar kepala orang yang terlontar hingga kurang lebih 150 M.

Letusan yang terjadi pada 11 Maret 1923 ini tercatat berasal dari kawah yang terdapat di Tegal Alun-alun, yakni berupa letusan lumpur dan batu-batuan sebesar kepala orang yang terlontar hingga kurang lebih 150 M. Sepanjang tahun 1924 hingga 1925, letusan-letusan kecil terjadi secara bergantian di masing-masing kawah yang berbeda hingga gunung inipun akhirnya memasuki masa istirahat yang cukup panjang sampai letusan besar terjadi kembali pada 11 November 2002. Pada hari senin, 11 November 2002 pukul 15.30, G. Papandayan memulai kembali kegiatannya setelah hampir 60 tahun menjalani masa istirahatnya.

Keanekaragaman Hayati
G. Papandayan telah menjadi cagar alam sejak tahun 1924. Ketika itu pemerintah kolonial Belanda menetapkan kawasan hutan dan kawah Papandayan seluas 884 Ha menjadi cagar alam. Saat ini total luas cagar alam telah bertambah menjadi 6807 Ha ditambah taman wisata alam seluas 225 Ha. Penambahan luas cagar alam dan taman wisata alam ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 226/kpts/1990 tanggal 8-5-1990. Wilayahnya meliputi G. Papandayan, G. Puntang, G. Jaya, G. Kendang, Tegal Panjang dan kawah Darajat. Dengan statusnya sebagai cagar alam berarti G. Papandayan beserta keanekaragaman hayati didalamnya dilindungi oleh negara Republik Indonesia.









PANORAMA ALAM DAN WISATA GUNUNG API (VULKANOWISATA)
Gunung Papandayan selain dikenal banyak orang karena panorama alam, keindahan kawah dan sunrisenya yang memikat, juga dikenal banyak orang karena kondisi gunungnya yang dapat dijadikan sumber ilmu pengetahuan bagi para pemerhati gunung api. Termasuk bagi para pelajar, mahasiswa dan peneliti yang memerlukan data-data yang berkaitan dengan cabang ilmu pengetahuan alam seperti ilmu kehutanan, geologi, vulkanologi, geofisika dan lain-lain.

Hampir setiap bulannya, terutama pada bulan April hingga bulan November, wisatawan lokal maupun mancanegara dan para pelajar banyak yang mengunjungi gunung ini dengan keperluan yang berbeda-beda.

Pondok Saladah
Pondok Saladah merupakan areal padang rumput seluas 8 Ha yang terdapat di ketinggian 2288 Mdpl. Banyak ditumbuhi tumbuhan edelweis yang abadi dan tidak mudah layu serta memiliki aroma yang khas. Didaerah ini mengalir Sungai Cisaladah yang airnya mengalir sepanjang tahun, tempat ini biasanya dijadikan sebagai tempat untuk kegiatan perkemahan. Sepanjang perjalanaan dari tempat parkir (titik awal pendakian) menuju tempat ini kita akan disuguhi panorama alam yang sangat indah, yakni pemandangan pembuka berupa bentangan kaldera berbentuk tapal kuda yang sangat luas, yakni mencapai 3 Km yang dihiasi oleh bebatuan berserakan yang berwarna-warni. Disebelah kanan selama perjalanan kita akan menjumpai dinding batu berwarna perak bernama tebing soni, dimana kota garut dapat terlihat dari puncak tebing ini, sementara disebelah kirinya kita dapat melihat jejak dari daerah bekas aliran letusan gunung pada tahun 2002, pohon-pohon yang hangus terbakar dan lubang-lubang yang mengeluarkan uap panas dari dalam tanah. Tumbuhan suwagi juga menghiasi pemandangan selama perjalanan menuju tempat ini.

Kawah Mas
Bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara, para peneliti dan para pendaki, kawah Mas adalah lokasi yang selalu menjadi tujuan utama dari semua perjalanan menuju gunung ini. Jika dibandingkan dengan lokasi-lokasi objek wisata lainnya yang ada disekitar gunung ini, kawah Mas merupakan lokasi yang sudah dibangun sedemikian rupa dan tampak lebih maju dan berkembang. Hal ini dikarenakan kawah Mas merupakan pusat dan lokasi terpenting dari rangkaian sejarah letusan G. Papandayan. Disini kita dapat mengamati aktivitas gunung berapi Papandayan yang sedang berjalan sesuai waktunya, di kawah ini terdapat 14 lubang letusan yang mengeluarkan asap dengan warna yang berbeda-beda, beberapa mata air mengandung belerang juga terlihat keluar dari sela-sela bebatuannya dan tentunya kita dapat mengamati aktivitas kawah Mas dari jarak yang sangat dekat.

Tegal Alun-Alun
Tegal Alun-Alun merupakan lokasi kawah tertua dari G. Papandayan yang telah lama mati dan berubah menjadi padang terbuka yang semua lokasinya hampir dipenuhi oleh tumbuhan edelweis, sehingga selama kita berada di lokasi ini kita akan selalu mencium harumnya bunga edelweiss yang khas. Lokasi ini menyerupai lembah yang dikelilingi oleh kompleks pegunungan dengan puncak-puncaknya yang menjulang. Dilokasi ini juga muncul sumber mata air bagi Sungai Ciparugpug disamping fumarola, solfatara dan sumber air panas yang keluar melalui retakan atau celah bebatuan yang ada disekitarnya. Bagi para peneliti, Tegal Alun-alun selalu dijadikan sebagai tempat untuk mengamati satwa-satwa liar dan tumbuhan-tumbuhan endemik.

Lembah Maut (Lembah Ruslan)
Lembah Maut (lembah Ruslan) merupakan salah satu lokasi yang dianggap berbahaya bagi pengunjung di gunung ini. Dilembah ini banyak ditemukan bangkai binatang yang mati akibat terjebak gas beracun. Pada tanggal 18 Desember 1924, diberitakan seorang mantri bernama Ruslan terjatuh ke lembah ini dan tak sadarkan diri, beberapa saat kemudian mantri Ruslan dinyatakan meninggal karena menghirup gas CL2. Setelah kejadian meninggalnya mantri Ruslan, lembah ini dinyatakan berbahaya. Dan karenanya lembah ini kemudian di kenal dan diberi nama dengan sebutan Lembah Maut atau Lembah Ruslan.

Padang Edelweis Gunung Papandayan Garut

Kalau kita telah mengenal Bandung dengan julukan Paris van Java, maka Garut juga memiliki julukan sebagai Swiss van Java. Hal ini terjadi karena adanya kemiripan bentang alam Swiss dengan Garut, bila Swiss dikelilingi oleh pegunungan Alpen maka Garut dikelilingi oleh 5 gunung yaitu Cikuray (2.818m), Guntur (2.249m), Papandayan (2.665m), Talaga Bodas (2.201m) dan Haruman (1.300m). Bila di Swiss ada danau Interlaken maka di Garut juga ada Situ Bagendit, kesejukan alam dan ketenangan suasananya juga memiliki kesamaan (minus Aceng Fikri tentunya :p) maka tidak salah jika Garut disebut sebagai Swiss van Java.

Setelah mencoba travelling ke pantai di Karimun Jawa, ke sungai di Green Canyon maka minggu lalu saya pun berkesempatan mengunjungi garut untuk tujuan mendaki Gunung Papandayan yang katanya oke banget itu. Perjalanan kali ini saya pergi bersama teman2 yang pernah ikutan travelling ke Krakatau sebelumnya yang berjumlah 7 orang ditambah teman2 baru 6 orang jadi total squad kami ke Papandayan adalah 13 orang (3 diantaranya perempuan). Oh iya, dalam mendaki Papandayan kami berencana untuk tidak mendirikan tenda, setelah sampai puncak Tegal Alun langsung turun lagi, jadi untuk trip kali ini bisa berangkat sabtu sore dan kembali minggu malam.

Perjalanan dimulai dengan menuju Garut dari Jakarta, moda transportasi yang kami pilih adalah bus dari terminal Kp. Rambutan (meeting point), berangkat jam 5 sore dan sampai di Garut jam 11 malam (bus kelamaan ngetem). Tempat berkumpul kami di Garut adalah di sebuah kafe dekat alun2 kota untuk menunggu pickup yg bakal mengantar kita ke pos pendakian Papandayan. Setelah pickup datang, eh taunya kita digabung lagi dengan 5 orang dari Bandung, jadi bisa dibayanginlah 18 orang dengan carier dan daypack besar2 sempit2an di atas pickup suzuki carry dan untung aja di tengah perjalanan ada pickup tambahan yg bikin kami bisa bernafas lega. Perjalanan dari kota Garut ke pos pendakian (Camp David) dengan pickup memakan waktu sekitar 2 jam dengan kondisi jalan agak sedikit off-road, namun kita bakal disuguhi pemandangan malam yang sungguh menakjubkan yg bakal ga bisa ditemuin di kota yaitu taburan cahaya bintang langit dan lampu Kota Garut di kejauhan.

Sekitar jam 2:30 kita sampai di Camp David dengan disambut udara sangat dingin dan bau belerang. Perut lapar belum makan dari tadi siang pun menambah penderitaan, tapi untungnya ada warung yang buka malam itu, walaupun makanan yg tersedia cuma mie instant, gorengan dan sedikit nasi. Berhubung mulai mendaki jam 5 pagi maka sambil menunggu subuh kami istirahat dulu di pondok khusus pendaki disana. Setelah briefing dan berdoa pendakian pun dimulai jam 5:30, rencana spot yg dilewati pada pendakian ini adalah kawah2 aktif, hutan mati, puncak tegal alun, pondok selada, dan kembali ke pos pendakian awal.

Awal perjalanan kita akan melalui medan terjal berbatu sisa2 lahar dingin melewati beberapa kepundan kawah aktif, disarankan untuk berjalan dengan cermat untuk menghindari tergelincir di bongkahan batu2, selain itu sedia masker karena bau belerang yg menyengat. Medan berbatu diselingi kawah ini bakal kita lalui sekitar 2 jam perjalanan dengan disuguhi pemandangan menakjubkan perpaduan sunrise, kawah, geyser (semburan air panas yg sayangnya masih belum dimanfaatkan oleh pemerintah setempat), tebing2 terjal dan bukit2 hijau di kejauhan.

Setelah itu kita bakal sampai di hutan mati, mengapa dinamakan hutan mati? karena dulu daerah ini merupakan kawasan hutan namun hangus terbakar karena awan panas ketika Papandayan meletus sehingga sekarang sepanjang mata memandang kita hanya melihat pemandangan eksotis berupa bekas2 pohon terbakar. Di spot ini kami istirahat sebentar untuk menyiapkan diri menuju puncak tegal alun, beberapa dari teman2 ada yg foto2 dengan berpose macam2 gaya, memasak, atau sekadar tidur2an.

Setelah dirasa cukup saatnya melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun, medan trekking yg dilalui awalnya datar melewati pohon2 bekas terbakar lama-kelamaan medan menjadi cukup menantang karena tanjakan terjal yg terkadang kemiringannya mencapai 45 derajad, ditambah dengan tanah belerang licin yg membuat kita musti extra hati2 agar tidak terpeleset, udara di wilayah ini juga semakin dingin mungkin disebabkan akan mendekati Tegal Alun. Sesampainya di Tegal Alun rasa lelah selama 2,5 jam perjalanan seakan sirna dari badan melihat keajaiban ciptaan yg Maha Kuasa berupa keindahan padang bunga Edelweis sang bunga abadi sejauh mata memandang.

Oh iya, Tegal Alun ini merupakan salah satu dari 4 spot terbaik untuk menikmati bunga Edelweis di Indonesia, makanya spot ini menjadi tujuan utama pendaki di Papandayan. Sebenarnya masih ada tujuan berikutnya yaitu Puncak utama Papandayan namun menurut guide kami spot itu jarang ditempuh karena selain jauh, pemandangan yg disajikan juga kurang menarik.

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan menakjubkan kami memutuskan turun untuk menuju pondok selada, wilayah pondok selada ini berupa padang rumput yg tidak terlalu luas namun cukup asri dan banyak dijadikan pos shelter bagi yg ingin camping di Papandayan karena terdapat sumber air. Namun ketika sampai disana saya sedikit kecewa karena pondok selada ini kotor sampah akibat banyak pendaki yg mengakunya pecinta alam namun tidak memiliki kepedulian. Istirahat sebentar, kamipun melanjutkan perjalanan balik menuju camp david melewati daerah yg biasa digunakan petani2 untuk mengangkut hasil pertanian menggunakan motor modifikasi untuk jalanan off-road. Sebenarnya ketika turun kami bisa saja melewati jalur yg sama ketika mendaki namun guide kami mengajak untuk mengambil jalan menelusuri lereng, agak sedikit lama dan melelahkan namun cukup terbayar dengan pemandangan yg indah.

Sekitar jam 1/2 3 sore kami sampai di Camp David, mengisi perut yg lapar dan bersih2 badan sebentar kami pun bersiap kembali untuk sempit2an lagi di pickup sampai ke kota. Naik angkot ke terminal Guntur dilanjutkan dengan naik bis Primajasa untuk kembali ke Jakarta dan Alhamdulillah jam 11 malam tiba di Jakarta mengakhiri petualangan seru dan berkesan di Papandayan.

Tips2 untuk yg ingin berwisata mendaki Papandayan:

- Kalo mau naik bus pilih Primajasa jurusan Lebak Bulus – Garut, untuk menaikinya tinggal menunggu di dekat halte busway Pasar Rebo karena bus ini bakalan keluar tol di Pasar Rebo dari Lebak Bulus untuk mengambil penumpang. Bis lain tidak disarankan karena kebanyakan ngetem.

- Jangan lupa bawa kaos kaki dan kaos tangan karena udara sangat dingin, jas hujan untuk mngantisipasi hujan dan masker karena bau belerang yg menyengat sepanjang perjalanan. Dan jangan lupa bawa trash bag atau kantong plastik untuk menjaga kebersihan selama pendakian.

– Buat pendaki pemula lebih baik untuk menyewa guide seperti kami yg menggunakan jasa Kang KopiTozie (085222946046) yg bakalan membantu kita selama perjalanan.

- Oh iya untuk damage cost Adventure ke Papandayan dengan naik angkutan umum bagi anak-anak Backpacker semua totalnya lebih kurang Rp 200.000 (males bikin rinciannya), udah include makan selama perjalanan.











Ternyata bukan kota Bandung Paritz Van Java saja yang dilingkung gunung, Garut Swiss Van Java Indonesia merupakan daerah yang dilingkung oleg beberapa gunung. Dari mulai Gunung Guntur, Gunung Puteri, Gunung Sadahurip, Gunung Hejo, Gunung Cikurai, Gunung Haruman, Gunung Wayang dll.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Who Behind on www.hoteldigarut.net

Hotel di Garut Informasi yang jujur dan objektif membahas tuntas kelebihan serta kekurangan dari setiap penginapan dan Hotel di Garut serta Villa, Resort & Rumah Sewa maupun Home Stay yang berada di Kota Garut. Kami bukan hanya memberikan informasi dan menyediakan jasa reservasi dengan harga terbaik, akan tetapi kami memposisikan diri sebagai sahabat, sobat dan sedulur para calon pelancong... Anda dapat menemukan Hotel di Garut pada Twitter, Facebook dan Google+. Anda juga dapat Menghubunginya di hoteldigarut2@gmail.com