27 Juli - 3 Agustus 2014 Hampir Seluruh Recommended Hotel di Garut sudah FULL BOOKING!
(PUNCAK DARAJAT MASUK DAFTAR BLACKLIST KAMI) UNTUK KAWASAN WISATA KAWAH DARAJAT GARUT, KAMI TIDAK BEKERJA SAMA DENGAN PENGINAPAN DAN WATERBOOM PUNCAK DARAJAT GARUT. (REKANAN KAMI DI DARAJAT HANYA DARAJAT PASS GARUT DAN AWIT SINAR ALAM DARAJAT GARUT)!

Karena Banyaknya Permintaan Penawaran Harga Paket Wisata terutama menjelang liburan anak sekolah 2014 serta yang berniat Tour di Bulan Mei / Juni agar data permintaan penawaran Paket Wisata ke Garut masuk ke antrian, kami sarankan para calon pengunjung Wisata di Garut untuk mengisi FORMULIR RESERVASI

Cara Reservasi Hotel di Garut

DEMI KEPUASAN CALON WISATAWAN KAMI TIDAK MENERIMA BOOKING DAN RESERVASI DADAKAN PADA H-1 & HARI H ! TELEPON JAM 08.00 s/d 17.00 WIB dari SENIN s/d SABTU

AGAR PARA TAMU BISA MENENTUKAN PILIHAN MENGINAP SETELAH MENDAPAT INFORMASI LENGKAP DAN DETAIL.




Thursday, 9 May 2013

Paralayang di Gunung Haruman Kadungora

Untuk anda yang senang dengan Wisata Alam, Wisata Sejarah dan Wisata Adventure ataupun Olahraga petualangan udara Paralayang dan Paraglading yang dilakukan dengan flight area di sekitar wilayah Gunung, selain perjalanan mendaki Gunung Papandayan Cisurupan ataupun Gunung Guntur Cipanas, ada Gunung lain yang tidak kalah menariknya untuk diikuti kisahnya yaitu Gunung Haruman yang terletak di Kecamatan Kadungora Garut.

Aktivitas Gunung Guntur di Cipanas Garut sudah mulai menurun akan tetapi jika anda berkeinginan berwisata ke Kawah Papandayan sepertinya harus ditahan dulu dikarenakan BMKG memberikan pengumuman bahwa disarankan tidak melakukan aktivitas di radius 2 Km dari Puncak Gunung Papandayan. 

Sedangkan yang melakukan Wisata ke Waterboom dan Pemandian Air Panas Kawah Gunung Darajat berada dalam radius aman karena jaraknya cukup jauh baik dari Papandayan ataupun dari Guntur. Tim Hotel di Garut akan melanjutkan pembahasan mengenai Gunung Haruman Kadungora.





Berpetualang di Udara dengan Olahraga Paralayang di Gunung Haruman

Kawasan gunung haruman bukanlah kawasan yang asing bagi para penggemar Paralayang, karena kawasan ini sejak awal tahun 90-an sudah diincar banyak pengila paralayang untuk uji nyali memacu jantung terbang melayang-layang dikawasan ini.

Objek wisata dan daya tarik olah raga Paraglading Gunung Haruman berlokasi di Desa Haruman Sari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat. Gunung Haruman memiliki ketingian lebih kurang 1300 m diatas permukaan laut dan gunung ini bukan merupakan jenis gunung berapi. 

Konfigurasi umum lahan adalah bergunung dengan kemiringan lahan agak curam yang daya serap tanahnya baik, satabilitas tanah baik dan jenis material tanahnya secara umum pasir berbatu. Gunung Haruman ini merupakan sebuah objek yang digunakan untuk olah raga Paraglaiding bagi orang-orang pecinta terbang layang.

Adapun landasan yang digunakan untuk terbang layang memiliki luas 40 x 15 m2 yang memiliki lapisan permukaan tanah rerumputan dengan kemiringan lahan yang landai. Untuk melakukan olah raga terbang layang, setiap pengunjung biasanya membawa peralatan sendiri, hal ini dikarenakan belum adanya pengelolaan secara khusus sehingga tidak tersedia peralatan yang dibutuhkan.

Untuk mencapai kawasan terbang layang Gunung Haruman kita dapat melalui jalan raya Garut ? Bandung yang melewati Kecamatan Kadungora. Dari Kecamatan Kadungora dapat menggunakan kendaraan pribadi atau ojeg menuju Desa Haruman Sari. 

Adapun jarak yang ditempuh dari Kecamatan Kadungora menuju Desa Haruman Sari berjarak lebih kurang 15 km dengan lebar jalan 2-4 m yang memiliki kualitas jalan kurang. Sedangkan untuk menuju landasan terbang layang dari Desa Haruman Sari berjarak 7-8 km, yang biasanya para pengunjung menggunakan mobil jeep atau sejenisnya, hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sangat rusak sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui oleh mobil selain jeep.

Kegiatan wisata yang bias dilakukan di kawasan ini adalah terbang layang, traking, menikmati pemandangan dan fotografi. Pengunjung yang dating ke Gunung Haruman berasal dari Jakarta, Jateng dam Jawa Timur. Serta pengunjung mancanegara berasal dari Singapura, Belanda, Korea dan Amerika yang hendak melakukan olah raga Paraglaiding.

Gunung Haruman yang terletak di Desa Harumansari, Kec. Kadungora, Kab. Garut merupakan salah satu gunung di Kab. Garut yang diyakini menjadi tempat keberadaan benda peninggalan bersejarah, yakni batu berbentuk kepala kuda dan makam Syekh Jafar Sidik.

Menurut Kabid Kebudayaan Disbudpar Kab. Garut, di Gunung Haruman ini ada batu berbentuk kepala kuda yang diyakini masyarakat sebagai peninggalan Prabu Kiansantang. Sedangkan Syekh Jafar Sidik merupakan pemuka agama yang sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di zamannya saat itu.





Di kaki Gunung Haruman terdapat batu berbentuk kepala kuda. Berdasarkan kajian historis, batu tersebut merupakan batu megalitik peninggalan zaman pra-sejarah. Menurut para ahli sejarah menjelaskan, batu berbentuk kepala kuda yang kondisinya masih kasar itu merupakan tempat pemujaan masyarakat yang hidup pada masa pra-sejarah. Mereka sengaja menempatkannya karena terdorong keyakinan adanya hal gaib di area tersebut.

Kepercayaan akan adanya hal gaib itu terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Hal ini terbukti dengan ditemukannya peninggalan lain seperti makam Syekh Jafar Sidik, seorang pemuka agama yang menyebarkan ajaran Islam di sekitar kaki Gunung Haruman. Makam keramat tersebut hingga saat ini masih dipelihara dengan baik oleh Kuncen Gunung Haruman.

Sejak zaman prasejarah, masyarakat yang berdomisili di kawasan kaki Gunung Haruman mempercayai adanya Tuhan atau hal gaib. Sebagai media tempat ibadah atau menyembah, mereka meletakkan batu berbentuk kepala kuda,sebelum Islam menyebar di daerah tersebut. 

Dari tempat tinggalnya, lokasi peninggalan prasejarah itu ditempuh dengan jalan kaki menelusuri jalan setapak dengan memakan waktu selama dua jam. Hingga saat ini, tempat tersebut sering dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah.

Selain Nama Gunung Haruman yang ada di Kabupaten Garut, ada beberapa sejarah  tentang makam yang ada di Kaki Gunung Haruman. Cukup banyak tokoh yang terkenal jasanya dalam menyebarkan Islam di Kab. Garut yang gaungnya meluas hingga luar daerah. Salah satunya adalah Syekh Ja’far Shidiq asal Kecamatan Cibiuk yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Wali Cibiuk. Ia hidup sezaman, bahkan dikenal bersahabat baik dengan penyebar Islam lainnya di daerah Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi. 

Karena jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam serta perkembangan kehidupan masyarakat Garut, khususnya di Garut Utara, makamnya yang terletak di kaki Gunung Haruman tak pernah sepi dari para peziarah. Belakangan, makam Syekh Ja’far Shidiq ini dijadikan Pemkab Garut sebagai salah satu objek wisata ziarah, tergolong ke dalam atraksi budaya peninggalan sejarah dengan bentukan fisik (relik/artefak) berupa makam. Selain berdoa dan menafakuri kiprah perjuangan Syekh Ja’far Shidiq dalam menyebarkan Islam, para peziarah juga dapat mempelajari kebudayaan, khususnya sejarah dan kebudayaan Islam.

Syekh Ja’far Shidiq tidak henti-hentinya mendorong umat untuk terus menggali serta mengembangkan ilmu dan kemajuan ekonomi, termasuk keahlian membuat makanan. Salah satu warisan dari Syekh Ja’far Shidiq yang hingga saat ini terus dikenal, yaitu “sambal cibiuk” yang dikembangkan putrinya, Nyimas Ayu Fatimah. Sambal cibiuk bahkan sudah menjadi trade mark di sejumlah restoran di beberapa kota besar seperti Bandung dan Jakarta.

Syekh Ja’far Shidiq juga meninggalkan warisan lain yang tak kalah pentingnya bagi pengembangan Islam, yaitu sebuah bangunan masjid yang hingga kini masih bisa dimanfaatkan umat Islam untuk berbagai kegiatan keagamaan. Masjid yang dibangunnya memiliki ciri dan corak khas bangunan masjid buatan para wali di Pulau Jawa, yaitu beratap kerucut dengan disangga oleh tiang-tiang kayu kokoh yang sambungannya tidak menggunakan paku.

Pada bagian atas atapnya dipasang sebuah benda berukir terbuat dari batu yang disebut masyarakat setempat sebagai “pataka”. Diperkirakan bangunan masjid tersebut sudah berusia lebih dari 460 tahun.

Masjid yang dikenal dengan sebutan masjid Mbah Wali tersebut terletak di Kp. Pasantren Tengah, Desa Cibiuk Kidul, Kec. Cibiuk. Sayangnya, bentuk bangunan masjid tersebut sudah banyak berubah dari aslinya. Sehingga harapan masyarakat setempat agar masjid tersebut bisa dijadikan salah satu bangunan cagar budaya sulit terwujud.

Menurut pengurus masjid Mbah Wali, Ahmad Zainal Muttaqien, masjid peninggalan Syekh Ja’far Shidiq tersebut aslinya berupa bangunan panggung berukuran 6 meter kali 6 meter terbuat dari bahan kayu dan bambu, dengan lantai dari palupuh (papan terbuat dari bambu, red). Atapnya berupa ijuk yang di atasnya dipasangi sebuah pataka. Masjid tersebut beberapa kali mengalami renovasi.

“Sekarang yang asli mungkin hanya tinggal kerangka dan bentuk bangunan serta patakanya itu. Atapnya sudah diganti genting dan palupuh juga sudah diganti dengan papan kayu,” katanya.

Saat ini, bangunan masjid Mbah Wali tersebut, bahkan sudah diperluas dengan cara disambungkan dengan bangunan masjid permanen di belakangnya yang berukuran 11 meter kali 13 meter. Perluasan bangunan dilakukan seiring bertambahnya jumlah penduduk di daerah tersebut. Dengan penambahan bangunan tersebut, masjid mampu memuat jemaah lebih dari 200 orang
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Who Behind on www.hoteldigarut.net

Hotel di Garut Informasi yang jujur dan objektif membahas tuntas kelebihan serta kekurangan dari setiap penginapan dan Hotel di Garut serta Villa, Resort & Rumah Sewa maupun Home Stay yang berada di Kota Garut. Kami bukan hanya memberikan informasi dan menyediakan jasa reservasi dengan harga terbaik, akan tetapi kami memposisikan diri sebagai sahabat, sobat dan sedulur para calon pelancong... Anda dapat menemukan Hotel di Garut pada Twitter, Facebook dan Google+. Anda juga dapat Menghubunginya di hoteldigarut2@gmail.com