Kampung Adat Pulo Traditional Village

Berbagai lokasi Wisata di Garut semakin hari meningkat kunjungannya sejak HDG Team melakukan sosialisasi yang terus-menerus, salah satunya Objek Wisata Candi Cangkuang baru-baru ini didatangi oleh DIS Jakarta dalam kunjungan wisata ke kota Garut selama 3 hari 4 malam dengan didampingi pemandu wisata dan agen travel terbaik dan paling berpengalaman di Garut yaitu HDG Team.

Selain Kampung Adat Dukuh di Cikelet di dekat Candi Cangkuang Leles Garut terdapat Kampung Pulo, Kampung Adat Pulo yang terdiri dari 6 buah rumah yang berjejer dan berhadap-hadapan, masing-masing 3 buah di sebelah kanan dan 3 buah sebelah kiri, di tambah dengan 1 buah mesjid. Kedua deretan tersebut tidak boleh ditambah dan dikurangi, yang berdiam disana hanya 6 keluarga.

Kampung Pulo Garut terletak kurang lebih 50 m ke arah timur kota Bandung dan 13 km ke arah barat kota Garut. Jadi, letak kampung ini berada di antara kota Bandung dengan kota Garut. Apabila mempergunakan kendaraan umum dapat ditempuh dengan naik bus dari terminal Cicaheum jurusan Garut sampai ke alun-alun Kecamatan Leles.  





Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan angkutan pedesaan, ojeg sepeda motor, atau delman ke arah Kampung Ciakar Desa Cangkuang yang berjarak sekitar 3 Km. Setelah tiba di Kampung Ciakar (tepi danau), untuk menuju Kampung Pulo dilakukan dengan naik rakit melalui situ atau Danau Cangkuang.

Sebagian besar penduduk Kampung Pulo Leles Garut bermata pencaharian petani dengan tanah sendiri, dan sebagian lagi sebagai petani penggarap tanah orang lain. Penduduk yang menempati kampung ini merupakan penduduk keturunan ke-7 dari Eyang Dalem Alif Muhammad. Dulu, masyarakat Kampung Pulo beragama Hindu. Secara perlahan, kedatangan Embah Dalem Alif Muhammad berhasil menyebarkan agama Islam di Kampung Pulo ini. 

Kampung Pulo merupakan sebuah kampung kecil  yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan adat ini harus ditepati. Hal ini dikarenakan ketika Eyang Dalem Alif Muhammad wafat dan meninggalkan enam orang anak dan salah satunya adalah pria. Oleh karena itu, di Kampung Pulo didirikan enam buah rumah adat yang berjajar saling berhadapan masing-masing tiga buah rumah di kiri dan di kanan ditambah dengan sebuah masjid.  

Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah ataupun dikurangi, serta yang tinggal di dalam rumah tersebut tidak boleh melebihi dari enam kepala keluarga. Jika seorang anak laki-laki sudah dewasa dan menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus  segera meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. 






Dalam adat istiadat Kampung Pulo terdapat beberapa ketentuan yang masih berlaku hingga sekarang, di antaranya yaitu dalam berziarah ke makam-makam harus mematuhi beberapa syarat yaitu berupa baraan api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan, dan cerutu.  

Hal ini dipercaya dapat mendekatkan diri kepada para leluhur; dilarang berziarah pada hari Rabu, bahkan dulu penduduk sekitar tidak diperkenankan bekerja berat, begitu juga Embah Dalem Alif Muhammad tidak mau menerima tamu karena hari tersebut dipergunakan untuk mengajar agama, karena menurut kepercayaan masyarakat apabila melanggar aturan tersebut maka akan timbul malapetaka bagi masyarakat kampung ini. 





Bentuk atap rumah selamanya harus memanjang; tidak boleh memukul gong besar; dan khusus di Kampung Pulo tidak boleh memelihara ternak besar berkaki empat seperti kerbau dan lain-lain.  Selain itu, setiap tanggal 14 bulan Maulud, mereka melaksanakan upacara adat memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batuaji, peluru dari batu yang dianggap bermakan dan memberi berkah.

Secara keseluruhan, keberadaan Desa Cangkuang sangat menarik karena lokasinya di tengah Situ. Candi Cangkuang sendiri terletak di daratan yang tinggi, sehingga tampak indah dari kejauhan. Konon kalau pagi hari Desa Cangkuang ini sangat indah di antara sinar matahari yang menembus pepohonan ari kaut yang masih tebal menyelimuti candi. Di sebelah candi cangkuang terdapat makam Embah Dalem Alif Muhammad. 
Situ dan Candi Cangkuang / Cangkuang Lake and Temple Selain Situ Bagendit Banyuresmi di Garut ada Situ dan Candi Cangkuang yang berada 14 Km sebelah utara pusat kota Garut arah jalan menuju Bandung, terdapat Situ Cangkuang, tepatnya di daerah Leles. 









Untuk menuju ke tempat obyek  wisata ini dari Kecamatan Leles, biasanya para wisatawan menggunakan kendaraan delman (andong) yang unik.  Situ yang dangkal ditutupi oleh bunga teratai yang indah. Ada sebuah pulau kecil ditengah-tengah situ,  dimana Candi Cangkuang berada.

Hanya satu kuil Hindu yang pernah ditemukan di Jawa Barat, merupakan penemuan penting pada zaman yang lampau. Dari pingir situ/danau untuk menyebrang ke Candi Cangkuang menggunakan angkutan tradisional yang terbuat dari bamboo, tapi aman dan nyaman disebut rakit.

Bagi rombongan besar yang melaksanakan Gathering dan Wisata Kampung Adat Pulo Garut sekalian berkunjung dan Tour ke Situs Candi Cangkuang Garut demi keamanan dan kenyamanan disarankan untuk didampingi oleh Pemandu Wisata terbaik di Garut yaitu HDG Team sehingga kita tidak repot lagi dengan berbagai pungutan dan kutipan saat bis masuk ke sekitar lokasi Cangkuang saat belok di alun-alun Leles, Biaya Naik Rakit, Tiket Masuk dan pendampingan Guide Lokal yang bisa menerangkan dengan detail sejarah Candi Cangkuang, Kampung Pulo dan Makam Mbah Arief Muhammad. 

No comments :

Post a Comment