Batu Pipisan dan Gandhik

Benda Sejarah dan Kepurbakalaan yang ada di Kabupaten Garut sebenarnya banyak yang bisa dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun dari luar kota Garut yang suka berekreasi bersama keluarga, salah satunya benda-benda sejarah, namun ada beberapa benda dan wisata budaya di Garut yang belum tercatat semua. 

Hal ini dikarenakan belum adanya tenaga ahli yang mampu meneliti dan mengungkapkannya secara utuh, selain keterbatasan temuan bukti sejarah penunjang yang tersedia. Dalam aspek pelestarian peninggalan sejarah dan purbakala, Garut cukup potensial. 




Pada aspek ini perlu dikembangkan pemanfaatannya baik untuk objek kajian ilmiah maupun untuk menunjang objek kepariwisataan Jawa Barat khusunya Garut. Karenanya, pembinaan dan pengembangan terhadap peninggalan sejarah dan purbakala perlu ditingkatkan, supaya kelestariannya tetap terjaga sesuai aslinya.

Selain benda-benda sejarah berupa Candi Cangkuang dan Rumah Adat Kampung Pulo, situs budaya makam-makam kuno seperti Makam Keramat Godog Suci, dan benda-benda di lingkungan situs cagar budaya seperti Situs Kabuyutan Ciburuy, yang selengkapnya dipaparkan dalam halaman “Objek Wisata”, masih terdapat benda-benda sejarah lain yang perlu diketahui masyarakat luas seperti Naskah Kuno dan Temuan Benda Purbakala.

Nah mengenai Benda Sejarah Batu Pipisan dan Gandhik peninggalan jaman dulu.Sebelumnya ditemukan disekitar lingkungan masyarakat penduduk yang ada di Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut.

Setelah ditemukan, maka dilakukan Penelitian di Kecamatan Wanaraja yang dilakukan Tim Balai Arkeologi (Balar) Bandung ditujukan disebuah temuan batu oipisan dan penggilingan (Jw. Gandhik).

Lokasi penemuan merupakan suatu perkampungan padat penduduk. Secara geografis wilayah ini berada pada koordinat 7º 10’ 40’ LS dan 107º 57’ 53’ BT. Bentang alam daerah tersebut merupakan pedataran vulkanik dengan ketinggian sekitar 700 m. di atas permukaan laut. 

Mengalir sebuah sungai cisangkan yang merupakan anak sungai Cimanuk yang mengalir di sebelah barat laut situs. Batu piipisan dan batu penggilingan tersebut ditemukan Bpk. Engkar ketika menggali tanah untuk pondasi bangunan. Menurut keterangganya, ketika ditemukan nbatu pipisan dengan batu penggilingan terpisah pada jarak sekitar 50 Cm.

Batu penggilingan yang ditemukan berbentuk silinder. Permukaannya sangat halus. Ukuran batu, panjang 16,5 cm. diameter 6 cm. bahan yang dipakai daribatu pasir arkose. Kedua benda tersebut sampai sekarang disimpan di Bapak Engkar yang menemukan benda sejarah. Batu pipisan dan penggilingan (gandhik) berfunsi untuk menghaluskan ramuan obat jaman dulu. Tanda adanya pemakaian terlihat dari permukaanya yang halus.

Pada beberapa candi Jawa Tengah (misalnya ; Borobudur) terdapat relief yang menggambarkan orang meramu obat. Sampai sekarang batu pipisan dan gandhik, belum pernah ditemukan dalam satu konteks dengan tinggalan masa pra-sejarah. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa benda arkeologis tersebut secara kronologis berasal dari masa klasik, mungkin dari jaman kerajaan Sunda Kuno.

Kabupaten Garut sangat banyak sekali menyimpan beberapa benda sejarah terutama saat jaman kerajaan Prabu Siliwangi. Ada beberapa titik yang sempat menjadi persinggahan Prabu Siliwangi di Kabupaten Garut yang saat ini menjadi Tempat Wisata di Garut walaupun tidak begitu populer untuk dikunjungi para pelancong karena keterbatasan informasi, akses jalan dan fasilitas di sekitar Wisata Budaya di Kota Garut. Mayoritas pengunjung ke Kabupaten Garut tertarik dengan Wisata Alam, Wisata Pantai dan Wisata Kawasan Air Panas dimana di lokasi rekreasi tersebut tersedia akomodasi Hotel yang memadai.

No comments :

Post a Comment