Gunung Guntur Dibuai Kesuburan, Diancam Bencana

Saat kecil pernah terbersit di pikiran bahwa sebetulnya salah satu kota yang betul-betul diriung ku Gunung adalah Garut bukan Bandung seperti syair yang dilantunkan Doel Sumbang di lagunya  Bandung : "Ari imut-imut Bandung ... Kota diriung ku gunung .. Dikantun montel katineung .. Paanggang muntang kamelang".

Saya sering menyebut Garut sebagai kota Kecil yang Besar, karena Garut memang merupakan kota 'jempol' dengan cakupan wilayah yang cukup luas kurang lebih 44 Kecamatan membentang dari Utara ke Selatan. Garut juga bukan merupakan daerah transit. Jadi orang yang datang ke wilayah ini memang betul-betul berniat akan datang, bukan karena kebetulan ataupun transit semata. 

Dedi Kincir dan Frank Garsel (Background Gunung Guntur)



Berita terbaru aktivitas Gunung Guntur yang saat ini sedang 'waspada' tidak menurunkan okupansi kunjungan ke lokasi wisata yang berada di kaki Gunung Guntur. Hotel Cipanas Indah, Wisma Tarumanegara, Aquarius, Kampung Sumber Alam, Penginapan Nugraha, Tirta Alam I dan 2, Tirta Merta, Banyu Alam, Banyu Arta, Tirtagangga, Sabda Alam. Penginapan Cipaganti, dan Hotel Danau Dariza hanyalah sebagian dari puluhan hotel dan pemandian air panas serta objek wisata di sekitar Cipanas Garut Jawa Barat yang selalu penuh pengunjung disaat weekend. 
Gunung Guntur Waspada, Wisatawan Tetap Sesaki Cipanas

Status Gunung Guntur yang berubah menjadi waspada sejak Selasa (2/4/2013) tidak memengaruhi jumlah kunjungan Wisatawan ke kawasan wisata air panas Cipanas, Kabupaten Garut. Situasi kawasan wisata di kaki Gunung Guntur ini tetap ramai pada akhir pekan.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Garut, Asep Irvan, mengatakan walaupun kabar mengenai peningkatan aktivitas gunung api terbesar di Garut ini sempat mencuat di berbagai media massa, para Wisatawan tidak membatalkan pemesanannya untuk menginap di hotel-hotel di Cipanas.

"Ternyata jumlah okupansi hotel di Cipanas akhir pekan ini mencapai 76 persen. Tidak ada yang membatalkan kunjungannya. Angka okupansi ini tidak jauh dengan angka okupansi hotel saat long weekend lalu, yakni 80 persen," kara Asep, Sabtu (6/4/2013).

Asep mengatakan para Wisatawan tidak khawatir dengan aktivitas Gunung Guntur. Sebab, kawasan Cipanas berjarak empat kilometer dari puncak gunung. Kawasan wisata andalan Jawa Barat ini berada di luar kawasan yang harus di waspadai, yakni di luar radius dua kilometer dari puncak gunung.

Menurut Asep, setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa kawasan Cipanas aman, para wisatawan, warga, pengusaha hotel, tempat hiburan, dan restoran, pun merasa tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

"Apalagi setelah mendengar kalau aktivitasnya kembali menurun. Kami harap gunung yang menjadi sumber mata pencaharian kami ini dapat kembali normal. Dengan kepastian ini, para Wisatawan dapat kembali berlibur dengan tenang," kata Asep.

Pada Sabtu siang, suasana di kawasan Cipanas pun tetap ramai. Sejumlah kolam renang, restoran, dan hotel, dikunjungi banyak wisatawan. Hal ini terlihat dari lapangan parkir di depan hotel dan tempat rekreasi air panas yang penuh dengan kendaraan berpelat B dan D.

Seorang guide yang tengah mengantar puluhan Wisatawan asal Bandung dan Bekasi ke Cipanas, Purnama (28), mengatakan para Wisatawan tidak terganggu dengan kabar mengenai aktivitas Gunung Guntur. Para Wisatawan yang dipandunya ini tidak membatalkan jadwal kunjungannya dan tetap mengunjungi Garut.

"Biasa saja. Tidak ada yang takut atau khawatir dengan Gunung Guntur. Semua aman-aman saja karena katanya aktivitasnya juga menurun," kata Purnama. (Tribun Jabar/sam)
Garut adalah ironi. Gunung-gunung yang mengepungnya memberkahi dengan sumber daya alam berlimpah, tetapi sekaligus menempatkannya di tubir bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menempatkan Garut sebagai kota dengan indeks rawan bencana tertinggi di Indonesia. 

Letusan Gunung Papandayan 2002






Dengan segenap potensi alamnya, Garut dikenal sebagai salah satu kota pariwisata dan pusat perkebunan yang mendunia sejak zaman Belanda. Namun, kota ini ternyata juga memiliki kerentanan bencana sangat tinggi. Pembangunan kota Garut berada pada dua kutub yang berseberangan ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana memberi kota Garut angka 139 untuk kota dengan indeks kerawanan bencana tinggi. Angka ini yang tertinggi di Indonesia, mengalahkan 493 kota/kabupaten lainnya. Dengan kata lain, Garut dianggap sebagai kota paling rentan bencana di Indonesia, mengalahkan Kota Banda Aceh yang pernah dilanda tsunami hebat pada Desember 2004.

Indeks Rawan Bencana Indonesia disusun berdasarkan riwayat nyata kebencanaan yang terjadi dan menimbulkan kerugian dalam kurun 1815-2011. Beberapa parameter yang dipakai di antaranya jumlah kejadian bencana, jumlah korban meninggal dan luka, kepadatan penduduk, serta kerusakan rumah dan infrastruktur.

Dari sederet ancaman bencana di Garut, seperti banjir, gempa, dan longsor, letusan Gunung Papandayan dan Gunung Guntur yang paling mengkhawatirkan. Lokasi kedua gunung ini berdekatan dengan permukiman warga. Apabila kedua gunung ini meletus, setengah dari total populasi penduduk Garut yang berjumlah 2,4 juta jiwa akan terdampak.

Direktorat Vulkanologi : Peta Geologi Gunung Api Guntur Jawa Barat


Peta Jumlah Penduduk di Kawasan Rawan Bencana Gunung Papandayan


Pada tahun 1772, letusan Papandayan menelan korban jiwa sebanyak tiga ribu orang yang tersebar di 40 desa. Pada 13 Agustus 2011, aktivitas Papandayan naik kembali. Status pun sempat dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono waktu itu sempat khawatir Papandayan akan meletus.

Kekhawatiran itu terutama karena riwayat letusan gunung ini yang mematikan dan wilayah bahayanya yang bisa menjangkau Garut. ”Kami tentunya tak berharap letusan besar Papandayan akan terjadi kembali. Namun, apa yang pernah terjadi di alam bisa saja kembali terjadi,” kata Surono, waktu itu.

Sebagaimana Papandayan, Gunung Guntur juga memiliki riwayat letusan yang mengerikan.

Walaupun berada dalam bayangan gunung-gunung api aktif, Garut tetaplah tumbuh sebagai kota padat penduduk yang produktif.

Awal Tumbuhnya Kota

Pada awalnya, adalah Letnan Gubernur Hindia Thomas Stamford Raffles yang mengeluarkan keputusan mengenai pembentukan Kabupaten Limbangan dengan ibu kota di Suci pada 16 Februari 1813. Namun, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya menilai bahwa Suci tak memenuhi persyaratan karena dianggap terlalu sempit, tidak akan mampu mewadahi perkembangan kota. Adiwijaya lalu membentuk panitia untuk mencari daerah baru yang dianggap lebih baik.

Sejarawan dari Universitas Padjadjaran, Kunto Sofianto, dalam bukunya, Garoet Kota Intan (2001), menyebutkan, ibu kota kabupaten akhirnya dipindahkan ke tempat lain yang tanahnya datar, subur, dan memiliki mata air yang airnya terus mengalir ke Sungai Cimanuk. Kawasan yang belakangan dinamakan Garut itu juga memiliki pemandangan menawan, dan dikelilingi gunung-gunung, salah satunya adalah Gunung Guntur.

Permai pemandangan dan kesuburan tanah di Garut agaknya telah menyihir panitia pemilihan ibu kota baru sehingga mereka mengabaikan risiko bahaya kawasan itu. Padahal, pada tahun-tahun itu, Gunung Guntur sedemikian aktif meletus.

Selama kurun 1800 hingga 1847, Gunung Guntur tercatat meletus 21 kali. Jejak aliran lava dan awan panas Gunung Guntur juga banyak dijumpai di lapisan tanah di Garut.

Gunung Guntur yang tiba-tiba berhenti meletus sejak 1847 membuat Garut tumbuh kian pesat. Ancaman bencana yang mengepung kota ini pun diabaikan.

Garut lebih dikenal sebagai kota pelancongan yang menawarkan pemandangan menawan. Ensiklopedia Hindia Belanda yang diterbitkan tahun 1917 menyebutkan, Garut sebagai salah satu tempat yang terindah di Jawa dengan iklim nyaman dan lingkungan yang sangat digemari oleh orang-orang Batavia (kini Jakarta).

Menurut Kunto, beberapa obyek wisata populer saat itu antara lain Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Bagendit, Situ Cangkuang, Gunung Cikuray, Pantai Pameungpeuk, hingga pemandian air panas di Cipanas.

Pada tahun 1927, Bupati Garut RAA Suria Kartalegawa meresmikan pemandian air panas Cipanas di Tarogong, sekitar 3 kilometer dari Garut. Laporan penelitian Awaludin Nugraha dari Universitas Padjadjaran dalam Industri Pariwisata di Karisidenan Priangan (1870-1942) menyebutkan, pemandian Cipanas sejak dulu ramai dikunjungi wisatawan karena dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

Selain itu, Garut juga dikenal sebagai kota perkebunan, khususnya perkebunan teh, karet, dan kina. Usaha perkebunan di Garut mencapai puncaknya sekitar pertengahan abad ke-19. Perkebunan yang dikelola oleh para pengusaha swasta Belanda ini kebanyakan terdapat di Giriawasa, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat.

Kunto juga mencatat, selain pemandangan alamnya, Garut saat itu juga menawarkan ladang perburuan bagi pelancong. Hingga tahun 1920, di sekitar Garut dilaporkan masih ada berbagai jenis hewan buruan, seperti macan loreng, macan kumbang, badak, banteng, babi hutan, anjing hutan, merpati liar, rusa, hingga buaya. Promosi tentang keragaman hewan buruan di Garut itu banyak dipublikasikan, misalnya dalam The Garoet Express and Tourist Guide Geillustreerd Weekblad edisi 2 Februari 1923.

Kunto menambahkan, selama kurun 1920-1940, Garut kemudian tumbuh semakin pesat. Berbagai fasilitas kota dibangun, mulai dari stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, hingga pertokoan yang dimiliki orang China, Eropa, Jepang, hingga India.

”Setelah dibangunnya berbagai fasilitas kota tadi, Garut berkembang tak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat pendidikan, perekonomian, dan tempat pariwisata,” sebut Kunto.

Namun, selepas kemerdekaan, pamor Garut sebagai kota wisata mulai memudar. Dari kawasan yang dirancang Belanda sebagai kota wisata dan perkebunan, Garut kemudian tumbuh selayaknya kota-kota lain di Indonesia yang tak terkendali. Upaya untuk mengembalikan citra Garut sebagai ”Swiss van Java” pun tak mudah dilakukan.

Tumpang Tindih

Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Garut Bidang Energi dan Kelistrikan Ahmad Fajar Kunaefi, potensi wisata Garut belum dimaksimalkan. ”Dari skala 1-100 potensi wisata dan energi Garut, yang baru dikembangkan saat ini hanya 10 persen,” ungkapnya.

Dikepung gunung, menurut Fajar, Garut punya banyak potensi energi, terutama yang bersumber dari mikrohidro yang memanfaatkan elevasi.

Belum lagi potensi energi panas bumi yang jumlahnya diperkirakan mencapai total 1.045 megawatt (MW). Sebagai energi terbarukan, panas bumi andal untuk memasok energi jangka panjang.

”Ada banyak potensi panas bumi di Garut, yakni di Gunung Arinem, Papandayan, Guntur, Masigit, dan Karaha Bodas. Kapasitasnya rata-rata di atas 150 MW. Yang baru dikembangkan saat ini baru Gunung Darajat oleh Chevron (350 MW) yang memasok listrik ke Jawa dan Bali,” katanya.

Menurut Fajar, kendala utama investasi di Garut adalah tidak ada kejelasan rencana tata ruang dan wilayah. Kepemilikan lahan tumpang tindih. Selain itu, ketentuan pembangunan di zona bahaya juga tidak jelas.

”Di zona bahaya kerap muncul tempat wisata, lengkap dengan hotel. Karena itu, harus ada strategi besar yang disepakati bersama untuk mengembangkan Garut,” katanya.

Sejak dulu, Cipanas menjadi etalase area bahaya yang padat hunian dan pusat wisata. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memasukkan Cipanas dalam Kawasan Rawan Bencana II, yang berpotensi terlanda awan panas, lahar letusan, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu.
Mbah Rono: Gunung Guntur kalem, tidak ada gempa 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menegaskan Gunung Guntur, Kabupaten Garut saat ini masih berstatus waspada. Namun aktivitas gunung justru cenderung turun.

Kepala PVMBG Surono mengimbau warga tidak terpancing isu menyesatkan terkait status gunung yang terakhir erupsi pada 160 tahun lalu itu.

"Gunung Guntur kalem, tidak ada gempa dan tidak ada tremor," kata Surono kepada wartawan, Jumat (12/4). Dia menambahkan pada Jumat ini dari pukul 00.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB terekam terekam 2 kali gempa vulkanik dalam, 4 kali gempa vulkanik dangkal, dan 1 kali gempa tektonik jauh.

"Warga jangan bingung dan takut," katanya. Warga diminta untuk hanya percaya pada PVMBG dan instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) setempat.

"Jadi jangan termakan isu-isu sesat," tambahnya.

Dia menegaskan, rekomendasi PVMBG terkait daerah bahaya tetap ada pada radius 2 kilometer dari kawah Gunung Guntur. "Jadi tidak ada yang harus diungsikan," ujarnya. Di luar radius 2 kilometer, warga masih bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Demi ketenangan dan keselamatan para wisatawan, Tim Hotel Garut akan selalu memberikan informasi update dan akurat tentang situasi terakhir dan perkembangan dari aktivitas Gunung Guntur yang terbaru, sehingga para wisatawan yang akan berkunjung bisa lebih tenang dan merasa aman. Selain informasi dari PVMBG, tim kami turun langsung ke lapangan di sekitar lokasi Gunung Guntur Cipanas Garut untuk mendapatkan informasi valid dari pihak yang berwenang.

No comments :

Post a Comment